Esensi

October 5, 2012 § Leave a comment

Sore tadi waktu di ruang auditorium tiba-tiba temanku bertanya, “alasannya kita bisa suka sama orang lain itu apa ya? kok bisa muncul kayak gitu?“.

Wah, aku yang mencoba menjawab sekenanya langsung menjawab gini, “ya itu karena ada koneksi antara dua insan yang menyebabkan adanya keterkaitan di antara mereka berdua“.

“Bukan jawaban formal seperti itu yang aku pingin”, jawabnya.

Aku kemudian berpikir. Kalau “suka” itu pasti karena sesuatu, pasti ada alasannya. Contohnya, makanan yang aku suka itu bakso. Alasannya ya karena bakso enak dan cocok sama lidahku, jadinya aku suka. Menurutku itu asal muasal suka, versiku. Teori sebab-akibat. Kalau dibandingkan suka dengan kaitannya sama manusia, mungkin teorinya sama seperti di atas. Pasti ada alasannya. Contoh lagi, kita pasti punya teman kan? kenapa kita mau berteman dengan dia? ya karena kita suka, kita tidak merasa terganggu dengan kehadirannya. Kalau misal kita terganggu, berarti kita tidak suka. Itu juga termasuk alasan kenapa kita bisa berteman dengan orang lain.

Tapi mungkin bukan “suka” dalam konteks itu yang dimaksud teman saya tadi. Tapi “suka” dalam hal merasa tertarik dengan lawan jenis. Ini masih sebatas “suka”. Belum lebih.

Kalau masih dalam batas suka, teorinya tetap sama seperti yang di atas. Ada alasan yang membuat kita merasa suka dengan mereka. Entah itu fisiknya (senyumnya, matanya, rambutnya, dsb.) atau juga karena sifatnya. Ini bisa jadi jawaban kalau waktu ditanya kenapa kok suka sama lawan jenis.

Menuju ke tingkatan suka yang lebih tinggi. Cinta. Cinta itu levelnya lebih tinggi dari suka. Teori sebab-akibat sudah tidak berguna lagi. Untuk merasakan cinta, kita tdak perlu alasan. Mungkin berawal dari suka, lalu muncul cinta. Tapi setelah merasa cinta, kita tidak pernah memikirkan lagi kenapa kita bisa suka. Jadi teringat video TEDx Sujiwo Tejo. Dia berkata seperti ini,

Cinta itu bukan kalkulasi. Cinta itu gak ada karena-karena.

Dari pernyataan itu aku mulai berpikir dan aku tahu bahwa cinta itu ada setelah rasa suka (relatif juga sebenernya), dan kemudian menghilangkan segala alasannya. Kemudian mulai menerima apapun yang ada pada dirinya. Kalau waktu ditanya kenapa kamu cinta dia? dan ternyata kamu bisa menjawabnya, itu cuma perasaan suka. Cinta mengalahkan logika bukan? alasan yang membuat kita suka  itu pastinya alasan yang baik-baik. Mana mungkin jika alasan itu buruk kemudian bisa muncul perasaan suka. Tapi ketika telah meningkat ke fasi cinta, alasan seburuk apapun pasti kita terima untuk tetap menerimanya. Tidak peduli walaupun dia itu buruk (luar dan dalam), tapi ketika kita cinta, semuanya hilang.

Suka dan Cinta itu sama kalau dilihat. Tapi esensinya berbeda. Jangan sampai merasa cinta tapi ternyata cuma suka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Esensi at dimazfakhr.

meta

%d bloggers like this: