Antara Mimpi dan Kenyataan

September 12, 2013 § 6 Comments

rasa. Sesuatu yang sangat penting bagi kita semua.

Kita hidup itu artinya kita bisa merasakan apa yang kita lakukan atau apa yang indra perasa kita rasakan. Kalau kita sudah tidak bisa merasakan itu semua, berarti kita sudah tidak hidup lagi alias mati. Tapi sering juga yang masih hidup dibilang ‘ah kamu gak berperasaan!’ apa yang bilang seperti itu berarti melihat manusia di depannya seperti manusia mati yang masih hidup? Ah sudahlah bukan itu yang mau saya bahas disini. Hehehe

Pikiran ini sebenarnya sudah berminggu-minggu berlarian di otak saya. Kita semua tahu kan kalau apa yang diterima oleh indra perasa kemudian akan diteruskan oleh saraf ke otak belakang kita untuk kemudian di proses lebih lanjut. Lalu dari otak belakang itulah kita bisa mengetahui apa yang kita lihat, merasakan apa yang kita pegang, sentuh, kecap, dan mendengar suara-suara di sekitar kita. Semua itu terjadi pada waktu kita hidup, di dunia nyata yang kita tinggali ini.

Sekarang pertanyaannya, pada waktu kita tidur dan kemudian bermimpi. Apa yang kita lakukan di dalam mimpi kita itu kadang juga kita rasakan bukan? Misalnya, kita bermimpi sedang lari. Kita juga merasakan bagaimana capeknya, bagaimana lari kita, atau bahkan kita juga ikut berkeringat dalam tidur kita. Jika kita mimpi sedang memadu kasih, pasti kita juga merasakan bahagia dan enaknya kan? Hehehe. Atau yang paling simpel, waktu kita kecil terus mimpi sedang minum air atau mimpi lagi pipis. Pasti kita tanpa sadar bener-bener ikut pipis (ngompol) kan. Nah, dari contoh di atas saya jadi tahu bahwa sebenernya otak belakang kita juga bekerja pada waktu tidur dan merespon apa semua rangsangan yang indra perasa kita dapatkan di dalam mimpi.

Jika di dalam mimpi saja kita bisa merasakan proses rangsangan seperti di dunia nyata, bisa saja kenyataan ini juga cuma sebuah mimpi kan? Proses rangsangan yang kita terima sama! Otak belakang kita sama-sama bekerja. Sebenarnya saya juga bingung sama apa yang saya bicarakan ini. Pasti banyak pernyataan atau pertanyaan yang muncul.

Kalo di mimpi kita bisa melakukan apapun semau kita, berimajinasi lebih bebas daripada di dunia nyata

Memang bener gitu. Di mimpi biasanya kita memang lebih mengelami hal-hal yang lebih imajiner daripada kenyataan. Kadang kita bisa mimpi dikejar-kejar gajah, mimpi di himpit batu besar, mimpi kita bisa terbang atau menjadi raksasa. Tapi sebenarnya itu bisa kita lakukan di dunia nyata, kecuali yang menjadi raksasa. Masalahnya di dunia nyata kita mengenal batasan-batasan yang kadang mengekang kita buat melakukan hal yang di luar nalar. You are what you think. Kita bisa melakukan dan mewujudkan apapun yang kita pikir kita bisa melakukan itu.

Ah tapi kan mimpi cuma sebentar, lah kita hidup di kenyataan kan lama

Sebentar. Lama. Itu Cuma nama julukan di dunia ini buat rentang waktu kan? Nah Tuhan sendiri udah bilang kalau kita di dunia ini cuma sementara kan, sementara = bukan untuk waktu yang lama = sebentar. Terus lagi, rentang waktu 2-3 tahun atau puluhan tahun sering kita rasakan seperti baru kemarin kan? Misal, kita ngerasa kalau baru kemarin gitu masuk kuliah waktu sekarang udah lulus. Atau ‘perasaan baru kemarin deh aku baru jadian sama kamu’ waktu menikmati sore pas udah jadi kakek nenek. Kayaknya memang gak ada sesuatu yang bisa kita jadikan patokan untuk merasakan rentang waktu yang lama itu. Yang ada Cuma perubahan pada diri dan lingkungan sekitar kita yang bisa nunjukin bahwa rentang waktu itu ada. Selebihnya, cuma ada di dalam pikiran kita.

Yang menarik, mimpi itu diawali ketika kita tidur. Tidur kadang juga dibilang sebagai mati sementara. Posisi tidur dan mati juga sejatinya sama, sama-sama berbaring. Jika mati sementara (tidur) menghasilkan mimpi yang cuma sebentar. Apa berarti mati itu menghasilkan mimpi yang lama? Seperti yang dibahas di atas tadi kalau mimpi sebenarnya sama seperti kenyataan. Apa berarti mimpi yang lama = kenyataan kita hidup sekarang ini?

Sekarang gini, mimpi itu kan berakhir ketika kita dibangunkan dari tidur kita. Sedangkan hidup ini berakhir jika kita meninggal. Nah, setelah meninggal kita juga nantinya dibangunkan lagi di padang Mahsyar bukan? Apa jangan-jangan sebenarnya kita semua sudah ada dalam keadaan tidur di suatu tempat, kemudian kita bermimpi yang mimpi itu adalah kehidupan kita sekarang ini? dan kita hanya menunggu untuk dibangunkan kembali tanpa tahu kapan waktunya. Seperti kita juga tak tahu kapan mimpi kita berakhir. Wallahu a’lam.

NB : jangan dianggap terlalu serius tulisan ini, hanya pikiran yang mengganggu di malam hari. Tapi kalau mau dibaca serius, riset lebih lanjut sangat dianjurkan biar gak tambah pusing tersesat di racauan saya ini.😀

§ 6 Responses to Antara Mimpi dan Kenyataan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Antara Mimpi dan Kenyataan at dimazfakhr.

meta

%d bloggers like this: